PMPK, Bandung – Bangunan Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Cicendo di Jalan Cicendo Nomor 2, Kota Bandung merupakan sekolah bagi siswa tunarungu tertua di Indonesia.

SLBN Cicendo didirikan pemerintahan Kolonial Belanda pada 3 Januari 1930 atas inisiatif Ny CM Roelfsema Wesselink, istri Dokter HL Roelfsema, seorang ahli THT di Indonesia.

“Sekolah ini paling tua se-Indonesia untuk sekolah tuli bisu, bahkan se Asia dan sekolah pertama tuli bisu,” ujar Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SLBN Cicendo Ine Rahayu.

Gedung Sekolah Luar Biasa Cicendo yang terletak pada ketinggian 752 m dpal ini dibangun dengan gaya arsitektur tradisional Indonesia. Kompleks gedung SLB terdiri dari pagar luar yang mengelilingi kompleks, pagar dalam, dan ruangan fasilitas sekolah. Bangunan ini didirikan dengan menggunakan kerangka besi/baja yang masih kokoh, pintu, dan jendela dari plat besi dan kaca es, sedangkan bagian kaki bangunan dari batu kali. Penggunaan bahan bangunan seperti ini merupakan salah satu ciri bangunan kuno yang didirikan tahun 1930an di kota Bandung.

Bangunan SLBN Cicendo ini menjadi bangunan cagar budaya yang ditetapkan Perda Kota Bandung No: 19/2009. Keterangan ini ditulis di sebuah keramik yang ditempel di tembok depan bangunan sekolah tersebut.