PMPK, Garut - Mengenai Kurikulum Merdeka tentu tidak lepas dari Project-based Learning. Dalam konteks Kurikulum Merdeka dikenal sebagai Projek penguatan profil pelajar Pancasila. Projek penguatan profil pelajar Pancasila adalah sebuah pendekatan pembelajaran melalui projek dengan sasaran utama mencapai dimensi profil pelajar Pancasila. Peserta didik akan belajar menelaah tema-tema tertentu yang menjadi prioritas setiap tahunnya.

Dengan adanya projek penguatan profil pelajar Pancasila, maka satuan pendidikan perlu mengalokasikan waktu agar guru bisa bekerja secara kolaboratif. Kolaborasi akan menjadi kunci sukses/tidaknya sebuah projek. Dalam pelaksanaan projek, guru-guru harus berkolaborasi secara lintas ilmu untuk merencanakan, memfasilitasi, dan menjalankan asesmen. Pada satuan PAUD, projek penguatan profil pelajar Pancasila memiliki tema-tema yang ditentukan pemerintah. Tema-tema ini dapat dikembangkan oleh satuan pendidikan. Pada setiap tahunnya, satuan pendidikan melaksanakan dua tema projek sehingga hal ini perlu masuk dalam pengorganisasian pembelajaran dalam kurikulum operasional satuan pendidikan.

SLB Bany Al-Muttaqin dalam menjalankan projek penguatan profil pelajar Pancasila melakukannya sesuai dengan hasil asesmen peserta didik.

“Projek penguatan profil pelajar Pancasila yang dilakukan itu sesuai dengan jenjang. Dari SDLB tentang menanam apotek hidup dimulai dari pengenalan hingga menanam. Begitu juga dengan SMPLB tentang pembuatan poster, pengenalan hingga pembuatan poster. Dan SMALB terkait dengan permainan tradisional dengan fase pengenalan, membuat, dan memainkan. Projek ini membuat siswa lebih semangat dan bergembira,” ungkap Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SLB Bany Al-Muttaqin Sulastri.

“Jadi waktu pelaksanaan pertama itu, peserta didik dibawa ke tempat wisata Dayeuhmanggung, di sana ada banyak poster-poster, tanaman apotek hidup juga serta permainan tradisional. Ketiga jenjang tersebut projeknya terlaksana,” sambung Sulastri.

Riska selaku guru pun menambahkan bahwa penentuan projek ini dilihat dari hasil asesmen peserta didik di mana dari hasil tersebut terlihat di mana peserta didik akan diberikan projek.

“Penentuan projek ini memang dilihat dari asesmen anak. Dari hasil asesmen tersebut nanti terlihat anak ini cocoknya diberikan projek apa. Karena memang Kurikulum Merdeka telah menyediakan apa saja yang menjadi projek untuk peserta didik, jadi kita tinggal menentukan projek apa yang tepat untuk anak tersebut. Dampaknya kepada peserta didik salah satunya mereka terlihat antusias dan senang dengan projek yang diberikan, dan semangat juga,” jelas Riska yang merupakan lulusan Universitas Pendidikan Indonesia S2 Pendidikan Khusus ini.

Hal tersebut yang dirasakan oleh Renata Julia, siswi Kelas XI SMALB Bany Al-Muttaqin. Ia mengungkapkan bahwa projek yang ia dapat yaitu permainan tradisional membuat ia semakin termovitasi dan menambah daya kreativitas serta inovasinya.

“Sangat senang dengan permainan tradisional. Meskipun bikinnya susah tapi senang. Jadi menambah kreativitas saya dan teman-teman,” ucap siswi penyandang tunagrahita yang bercita-cita menjadi kepala sekolah ini.