Pewarta: Fatkul Yudhistira Manik, M.Pd., Gr.
Namanya Noni, seorang Pramuka Penegak dari Gugus depan SLB Negeri Sumbawa Besar. Satu dari dua peserta PNPBK (Pertemuan Nasional Pramuka Berkebutuhan Khusus) 2022 yang mewakili Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sosoknya menjadi perhatian tersendiri bagi saya sehingga tertarik untuk membuat tulisan ini karena dengan keterbatasan fisiknya ia tidak mau menggunakan kursi roda. Selain itu, ketika ditugaskan menjadi dirigen upacara penutupan kegiatan PNPBK 2022, Noni tidak sedikitpun terlihat menolak, ia langsung menyiapkan diri bersama  bindamping dan fasilitatornya.

Pada saat kunjungan museum presiden, petugas museum yang berjaga meminta panitia agar Noni menggunakkan kursi roda dengan terpaksa ia menggunakannya (seperti dalam foto). Sikapnya yang polos dan santai justru menawarkan kursi roda yang ia gunakan kepada panitia/fasilitator yang mengeluh “cape”. Ungkapan spontan Noni tersebut merupakan suatu bentuk sindirian bagi kita yang tidak memiliki keterbatasan fisik tetapi lebih sering mengeluh dan kurang bersyukur.

Noni sebagai penyandang disabiitas daksa pernah merasakan bangku sekolah reguler”, sebagai minoritas disekolahnya Noni juga pernah mendapatkan bullying non-verbal tidak langsung yang menyakitkan hati dari beberapa teman. Namun, ia tidak pernah menanggapi dan Noni sudah mengerti bahwa ia berbeda secara fisik dengan teman yang lain,Yasudahlah…., mau diapain lagi tuturnya dengan santai. Perilaku bullying pastinya tidak ada dalam diri anggota gerakan pramuka karena tidak sesuai dengan Dasa Darma ke-10 yaitu Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Disamping itu, kegiatan PNPBK 2022 diikuti oleh perwakilan anggota gerakan pramuka dari sekolah “reguler” wilayah jabodetabek. Mereka berbaur mengikuti kegiatan, berinteraksi, dan saling membantu dalam menyelesaikan kegiatan. Hal positif tersebutlah yang diharapkan Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus (PMPK) sebagai penyelenggara kegiatan PNPBK dalam mensukseskan Indonesia Inklusi tanpa Diskriminasi.

Saat ini, Noni berada di kelas XII SMALB. Ia menceritakan bahwa beberapa guru di sekolah menyarakan agar ia melanjutkan pendidikan disalah satu perguruan tinggi negeri di Kota Malang dengan prodi Pendidikan Luar biasa/Pendidikan Khusus. Selain itu, Noni juga menyampaikan keinginannya untuk mengasah keterampilan berbahasa di Kampung Inggris Pare Kediri, Jawa Timur. Ia melihat kampung halamannya di NTB termasuk salah satu destinasi super prioritas yang ditetapkan oleh pemerintah sehingga banyak turis lokal mapun turis asing yang datang. Kemampuan komunikasi internasional sangat diperlukan sebagai dasar membuka peluang sebesar-besarnya untuk masa depan tanpa batas dibalik keterbatasan fisik yang Noni miliki.

i*