PMPK, Jakarta – Kepala sekolah luar biasa negeri (SLBN) 01 Jakarta Dedeh Kurniasih bercerita tentang dinamika pembelajaran di masa pandemi, di antaranya terkait pembelajaran jarak jauh (PJJ). Menurutnya pembelajaran di SLB berbeda dengan peserta didik nondisabilitas, dikarenakan perlu dominan dilakukan pendampingan. Jika di sekolah, hal tersebut dilakukan oleh guru, di rumah pendampingan dilakukan oleh orang tua/wali.

Lalu pada PJJ terkendala pada alat dan medianya, seperti handphone, yang untuk keluarga menengah ke bawah, hp digunakan untuk satu keluarga. Masih terkait kendala di alat dan media, yakni terkait pulsa dan fasilitas internetnya.

“Ketika orang tua yang siap dengan fasilitas yang ada, ada hp-nya, sebenarnya tidak terlalu masalah. Bisa melalui WA tugasnya. Kalau orang tua dan anaknya siap menggunakan Zoom,” ungkap kepala SLBN 01 Jakarta.

“Tapi ketika menghadapi anak yang hp-nya tidak ada, rusak, wi fi tidak stabil, guru itu memberikan tugas langsung, berbentuk print out. Tugas itu untuk seminggu atau dua minggu. Ada yang janjian datang ke sekolah untuk mengambil tugas itu. Ada juga yang sebagian datang kunjungan ke rumah,” sambung Dedeh menjelaskan dinamika pembelajaran di masa pagebluk Covid-19.

Sementara itu Guru Tata Kecantikan SLBN 01 Jakarta Ekawati mengakui untuk ranahnya terkendala di masa pandemi, dikarenakan diperlukan praktik.

“Untuk materi dibilang sulit, ya pasti sulit. Karena kita kan lebih banyak praktik langsung. Ketika anak-anak mau praktik di rumah masing-masing itu kan bahannya enggak ada, alatnya enggak ada. Terkendala juga sih pandemi,” ucap Ekawati.

Ekawati pun menyiasatinya dengan melakukan modifikasi materi pembelajaran.

“Saya ambil yang kira-kira ada di rumah apa. Misalnya, lulur, pemakaian masker, perawatan badan, masker wajah pakai tomat, timun. Saya cari ide sendiri. gimana supaya berjalan,” ujarnya.

“Kalau untuk creambath kan agak susah, pengeringnya pun paling cuma handuk yang ada di rumah. Kayak pencuciannya kan kalau di sekolah kita pakainya washbak, kalau di rumah kan paling cucinya pakai gayung, keran. Ambil materinya yang sekiranya di rumah bisa dipraktikkan apa,” tambah Ekawati.

SLBN 01 Jakarta yang terletak Jalan Pertanian Raya, Lebak Bulus, Kecamatan Cilandak, Kota Jakarta Selatan memiliki peserta didik dengan ragam disabilitas. Yang dominan secara kuantitas adalah tunarungu dan tunagrahita, lalu terdapat juga 13 orang peserta didik autis, dan 2 orang peserta didik tunadaksa.

Pertemuan tatap muka terbatas (PTM Terbatas) telah dilakukan di SLBN 01 Jakarta pada hari Senin, Rabu, dan Jumat dengan durasi 3-4 jam.

“Semuanya sudah menunggu ya, baik dari lembaga, gurunya, orang tua, peserta didik, boleh dikatakan mendambakan untuk masuk tatap muka,” ucap kepala SLBN 01 Jakarta Dedeh Kurniasih.

Untuk PTM Terbatas, guru Tata Kecantikan SLBN 01 Jakarta Ekawati memperhatikan kapasitas ruang serta siswa yang masuk di kelas.

“Untuk Tata Kecantikan seminggu sekali dilaksanakan. Dari jumlah anaknya, saya bagi. Biasanya saya satu kelas ada 8, bahkan 10 anak, karena kan digabung kelasnya. Kalau misalnya SMP dari kelas 7, 8, 9. Untuk PTM Terbatas diatur anaknya jadi tidak terlalu banyak, misalnya satu kelas diisi 3 anak,” ungkapnya tentang dinamika pelaksanaan PTM Terbatas.