PMPK – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) memfasilitasi peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) untuk berprestasi di bidang olahraga.

Pijar inspirasi mengenai semangat berprestasi di bidang olahraga terlihat pada webinar “Bincang Prestasi: Sehat, Sportif, dan Talentaku untuk Indonesia Tangguh”. Webinar menghadirkan atlet-atlet berkebutuhan khusus yang berprestasi di ajang nasional dan internasional untuk memberikan motivasi dan inspirasi kepada PDBK bahwa mereka juga bisa berprestasi di bidang olahraga, bahkan hingga tingkat internasional.

Para narasumber dalam webinar tersebut adalah Stephanie Handojo, peraih medali emas Special Olympics World Games 2011 di Athena; Yuanita Hidayati dan Nuria Oki Rahmadani, Juara 1 Kompetisi Invitation Spesial 5-A Side Football Championship tahun 2019 di India; Leani Ratri Oktila, peraih 2 Medali Emas Paralimpiade Tokyo 2020; dan Marini, Staf Kemenpora, Finalis Pekan Olahraga Nasional (PON) 2004 dan 2008 Cabang Atletik, Nomor Lontar Martil. Kelima narasumber tersebut berbagi kisah inspiratif dan memberikan motivasi kepada seluruh anak Indonesia berkebutuhan khusus yang ingin berkarya dan meraih prestasi.

Stephanie Handojo, adalah gadis penyandang down syndrome yang memiliki segudang prestasi di bidang olahraga sebagai atlet renang dan bowling. Ia sudah sering mewakili Indonesia di ajang Special Olympic (SO) International. Beberapa prestasi Stephanie antara lain peraih medali emas SO Singapore National Games 2009, medali emas SO Indonesia National Games 2010, SO World Games Athens 2011, medali emas SO Regional Games Australia 2013, serta peraih medali emas dan perak dalam Asia Ten Pin Bowling 2018 di Manila, Filipina.

Stephanie bercerita, perjuangannya meraih prestasi dalam berbagai kejuaraan tidak lepas dari dukungan orang tua dan orang-orang di sekitarnya. “Dukungan keluarga yang utama. Mama, papa, dan adik-adik semuanya mendukung dengan penuh cinta. Fani juga didukung pelatih dan teman-teman,” tuturnya.

Ia sempat tenggelam saat mengikuti lomba renang di usia 12 tahun. Waktu itu Stephanie merasa trauma dengan air dan takut untuk kembali berenang. Namun ibunda Stephanie, Maria, dengan penuh kesabaran terus mendukung dan memotivasi putrinya agar bisa berani berenang kembali. “Saya berikan semangat agar ia mau memulai untuk menghadapi traumanya dengan air. Sekitar 3 sampai 4 bulan kemudian dia mulai percaya diri. Banyak yang melihat usaha saya melatih Fani dan melihat saya sangat tega padanya. Tapi saya yakin dengan kemampuan Fani,” ujar Maria.

Selain sibuk berlatih, Stephanie juga memiliki kegiatan di waktu luangnya, seperti merajut dan memasak. Ia juga aktif menjadi narasumber di berbagai webinar dan organisasi kepemudaan. Dalam webinar itu, ia berpesan agar semua pihak mau membuka diri untuk memberikan respek kepada anak-anak berkebutuhan khusus. “Biarkan saya menang. Tapi jika saya tidak bisa menang, biarkan saya berani untuk mencoba,” ujar Stephanie sambil memberikan motivasi dan keberanian untuk anak-anak berkebutuhan khusus lainnya.

Turut berbagi inspirasi dalam webinar itu adalah dua siswa SLB Ma’arif Muntilan, Jawa Tengah, yaitu Yuanita Hidayati dan Nuria Oki Rahmadani. Keduanya berhasil meraih Juara 1 dalam Kompetisi Invitation Spesial 5-A Side Football Championship tahun 2019 di India, beserta siswa berkebutuhan khusus lainnya dari Provinsi Jawa Tengah. Kepala SLN Ma’arif Muntilan, Sugiranto, mengatakan, pihak sekolah memberikan dukungan sesuai dengan potensi dan kompetensi yang dimiliki peserta didiknya. Misalnya Yuanita, yang sebenarnya adalah atlet sprinter di Jawa Tengah, yang sering meraih juara di nomor lari 80 meter. “Dari kebiasaan lari itu, otot-ototnya sudah terlatih khusus, kemudian dia akhirnya menyukai bola, lalu kita ajarkan bermain bola,” katanya.

Khusus untuk Nuria Oki Rahmadani, sebelumnya ia kurang memiliki rasa percaya diri karena kondisi keluarganya yang broken home dan ia hidup terpisah dari kedua orang tuanya. “Tapi dengan potensi yang ada, kita berusaha membantu mengembangkan potensinya. Ini kita apresiasi, dengan keterbatasannya tetap kita dukung,” ujar Sugiranto.

Kisah inspiratif lain datang dari peraih 2 medali emas dan 1 medali perak di ajang Tokyo Paralympics 2020, yaitu Leani Ratri Oktila. Ia bermain di tiga nomor sekaligus untuk cabang parabadminton, yaitu Ganda Campuran, Ganda Putri, dan Tunggal. Karena prestasinya, Ratri kemudian mendapat julukan sebagai Ratu Parabadminton. Ratri yang telah berlatih badminton sejak usia tujuh tahun itu sebelumnya adalah atlet badminton. Namun ia mengalami kecelakaan pada tahun 2011 dan tidak berpikir untuk melanjutkan kariernya sebagai atlet karena ia tidak mengetahui info tentang olahraga untuk orang berkebutuhan khusus. “Saya merasa harus berdamai dengan diri sendiri saat kondisi terpuruk itu, saya berusaha tidak down. Saya harus berpikir positif kalau saya harus istirahat. Waktu itu saya belum tahu banyak tentang olahraga disabilitas. Jadi saya berusaha menenangkan diri sendiri kalau saya memang perlu istirahat, mungkin saya lelah karena sejak usia tujuh tahun sudah bermain badminton,” tutur Ratri.

Ia mengatakan, proses yang ia hadapi tidak mudah dalam perjalanannya. Namun ia yakin semua itu bisa dijalaninya karena ada kemauan, keberanian untuk berjuang, dan yakin dengan diri sendiri. “Kadang teman-teman disabilitas merasa kurang percaya diri. Jangan menyerah, jangan putus asa, dan percaya pada kemampuan diri sendiri,” ujarnya berpesan kepada para penyandang disabilitas. Ratri juga mengapresiasi upaya pemerintah yang saat ini sudah memberikan fasilitas dan kesetaraan serta hak yang sama kepada atlet disabilitas dalam berprestasi.

Dalam webinar tersebut, hadir juga Marini, Staf Kemenpora dan Finalis Pekan Olahraga Nasional (PON) 2004 dan 2008 Cabang Atletik, Nomor Lontar Martil. Marini juga menjadi pelatih dan pendamping anak-anak berkebutuhan khusus di bidang olahraga. Ia bercerita, ketertarikannya dengan anak-anak berkebutuhan khusus dimulai saat ia masih menjadi mahasiswa di Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Jakarta. “Suatu hari saya melihat ada pembinaan untuk atlet-atlet Special Olympic DKI yang latihan setiap hari Sabtu. Mereka terlihat berbeda. Sangat unik. Dan di antara mereka tidak ada rasa kesedihan, selalu terlihat ceria. Di situ saya tertarik, bagaimana cara berada di antara mereka untuk menjadi pelatih?” tuturnya.  Kemudian pada tahun 2003 ia pun menjadi pelatih anak-anak berkebutuhan khusus, sampai akhirnya mendapat kesempatan untuk mendampingi mereka di ajang World Summer Game di Shanghai pada tahun 2007. Menurutnya, setiap anak berkebutuhan khusus butuh ruang dan kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka bisa. “Tiga kata. Kita pasti bisa!” ujar Marini.