PMPK - Pengetahuan tentang Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS) penting diberikan kepada anak-anak remaja berkebutuhan khusus, khususnya untuk peserta didik tunagrahita. Selama ini, pengetahuan tentang hal ini, seringkali diabaikan para stakeholder pendidikan dan lingkungan sekitar karena dianggap tunagrahita tidak memiliki libido seksual.

Padahal, anak-anak dengan disabilitas intelektual –disebut juga tunagrahita kematangan reproduksinya lebih cepat dibandingkan dengan anak pada umumnya. Sebab itu, mereka perlu diberikan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas.

Pernyataan ini disampaikan salah satu tim penyusun modul pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas tunagrahita Budi Hermawan dalam Peluncuran Buku Modul Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas bagi Tunagrahita yang diselenggarakan Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus (PMPK), Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). 

Menurut Penulis Modul Guru “Guru Hebat, Generasi Sehat: Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas bagi Remaja dengan Disabilitas Intelektual”, Budi Hermawan, perlu adanya konsistensi mengenai alat reproduksi yang perlu disampaikan kepada peserta didik disabilitas intelektual, dengan mengajarkan bagaimana berkomunikasi secara fungsional dan terstruktur. Karena itu, hal ini perlu dilakukan oleh pihak sekolah yang bekerja sama dengan orang tua secara terus menerus. Terlebih peserta didik tunagrahita tidak mudah ingat, sehingga perlu diajarkan secara berulang.

Tunagrahita disebut juga anak yang mengalami disabilitas intelektual. Hal ini merujuk pada pemikiran all children are educatable. Ini juga dikuatkan dengan keberadaan UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang menyebut anak tunagrahita dengan disabilitas intelektual.

Hanya saja, kata Budi, prinsip pembelajaran terhadap mereka berbeda dengan yang lainnya. Materi yang diajarkan kepada mereka perlu dilakukan secara berulang, dengan didahului memberikan contoh-contoh, penjelasan yang sederhana, praktik dan melalui visual. Aspek penekanan kata-kata kunci dan penggunaan bahasa isyarat juga harus diutamakan. 

Terkait dengan penerbitan buku modul PKRS, Budi mengatakan, buku tersebut memberikan pemahaman untuk anak agar selalu menjaga kehormatan, sehingga sedapat mungkin orang dewasa yang berada di sekitar remaja dengan disabilitas intelektual mampu mencegah dan menghindari terjadinya pelecehan seksual, bullying, dan bentuk-bentuk perbuatan tidak menyenangkan lainnya kepada mereka.

Menurut Budi, remaja tunagrahita harus diberi pemahaman dengan bahasa yang sangat simpel atau sederhana agar mereka mampu menangkap apa yang sudah disampaikan. Selain itu, mereka sangat menginginkan contoh yang sangat konkret sehingga perlu disampaikan dampak yang nyata kepada mereka apabila melakukan hal-hal yang sudah dilarang. 

Sementara itu, untuk mengintegrasikan PKRS ke dalam kurikulum, maka pertama-tama guru perlu mengidentifikasi mata pelajaran yang sesuai dengan kompetensi dasar setiap topik. Selanjutnya, bisa memilih strategi atau teknik yang cocok untuk menyampaikan materi PKRS kepada peserta didik remaja dengan disabilitas intelektual.

“Ya, selanjutnya mengidentifikasi dan memilih media yang tepat agar materi PKRS dapat dipahami secara baik oleh peserta didik remaja. Media pembelajaran tersebut mesti konkret, populer atau tidak asing bagi anak. Lalu, pada prinsipnya model pembelajaran haruslah diterapkan dengan prinsip repetisi, dan tidak menggunakan katakata yang ambigu,” jelas Budi pada webinar “Peluncuran Modul Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas untuk Remaja dengan Disabilitas Intelektual”, Selasa (15/9/2020).

Kemudian, terkait dengan proses pembelajaran, pertama harus merumuskan silabus dan rencana pokok pembelajaran (RPP) yang merefleksikan PKRS dan sudah terintegrasi dalam mata pelajaran secara tertulis. Tujuannya, agar peserta didik remaja dengan disabilitas intelektual mampu menghindari atau melakukan perlindungan diri sebagai bentuk kekerasan fisik, psikis dan seksual, maka perlunya pengajaran kepada mereka bagaimana menghindari perbuatan kekerasan dengan cara menjauhkan diri atau meminta bantuan orang yang lebih dewasa.

Guru SMPLB Tri Asih, Antonia Pujowati menceritakan, pendidikan seksualitas dan reproduksi sudah dimasukkan dalam bidang studi Bina Diri, jauh sebelum terbentuknya modul PKRS.

Dia bercerita bahwa mendidik kesehatan reproduksi kepada tunagrahita memiliki tantangan yang bermacam-macam. Apalagi, alat komunikasi pada saat itu belum canggih seperti saat ini. Akan tetapi, yang namanya seksualitas sudah ada pada anak sehingga perlu adanya pengajaran mengenai pendidikan reproduksi. Sebab hal tersebut harus diketahui oleh anak secara jelas, meskipun dalam penyampaiannya harus dilakukan secara berulang-ulang dan singkat.

Menurutnya, pengajaran mengenai seksualitas kepada anak seperti itu harus dilakukan pada waktu yang tepat dan dibicarakan dari hati ke hati. Hal ini untuk menggali apa yang mereka katakan dan apa yang mereka mau sehingga proses belajar ini seperti sharing antara anak dengan orang tua atau anak dengan guru.