PMPK -  Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus (PMPK), Samto mengatakan  program ADEM bukan hanya memberikan pendidikan yang terbaik, namun melalui program ini para peserta mendapatkan pemahaman tentang karakter kebangsaan atau pendidikan karakter kebangsaan. 

“Bagaimana kita semua belajar tentang toleransi antar sesama, bagaimana kita melakukan kegiatan sosialisasi dan kemudian menyatu untuk seluruh Indonesia. Bisa bekerja sama untuk membangun Indonesia,” kata Samto, Senin (12/10/2020).

“Khusus untuk program ADEM Papua dan Papua Barat, memang spesial, dengan tujuan membangun Indonesia dari Papua,” sambung Direktur PMPK.

Samto berharap bagi para peserta yang telah selesai mengikuti rangkaian pendidikan ADEM,  bisa melanjutkan pendidikan lebih tinggi melalui program ADik. Berbekal ilmu dan pengalaman yang sudah mereka dapat saat kembali mereka akan berkontribusi dalam membangun Papua dan Papua Barat menjadi lebih baik.

Dalam upaya menyiapkan para pemimpin masa depan, kawah kepemimpinan pelajar ini melalui ADEM Survive Digifest 2020 sebagaimana diketahui bahwa masa depan Indonesia ini nantinya akan bergantung pada teknologi.

“Karena kecepatan teknologi ini membuat kita semua sering tidak mampu memprediksi apa yang akan terjadi. Perubahan-perubahan begitu cepat, kita sering kali ketinggalan dalam menyesuaikan diri. Kemudian terjadi situasi yang membingungkan yang menyebabkan adanya keraguan tentang keputusan yang harus diambil,” tutur Samto.

Di masa depan, sambungnya, terkait dengan perubahan teknologi ini, terutama bagi para peserta didik, harus menyadari bahwa di masa depan akan banyak sekali pekerjaan yang akan hilang dan akan digantikan oleh jenis profesi-profesi yang baru. Ini tidak dapat diprediksi untuk waktu dekat, sehingga semua elemen, khususnya para peserta ADEM harus menguasai teknologi.

“Tantangan kita di abad 21 sangat luar biasa. Orang sering menyebut Revolusi Industri 4.0. Ini otomatis akan terjadi dimana-mana, sehingga menghilangkan banyak kebiasaan serta profesi yang ada seperti sekarang ini. Sebagai contoh sistem perbankan sekarang semua menggunakan teknologi informasi, sementara dulu harus ke bank dan mengurusnya secara manual, sekarang telah ada ATM dan M-Banking. Sehingga profesi teller sudah berkurang,” kata Samto.

Samto berpesan kepada peserta ADEM untuk menyiapkan bekal sebagai pemimpin masa depan.  “Ini harus menjadi perhatian kita semua, bahwa adik-adik harus mempersiapkan dengan baik. Apa yang harus dipersiapkan bagi adik-adik agar nanti menjadi pemimpin di masa yang akan datang. Minimal ada tiga hal,” kata Samto.

Pertama, katanya, peningkatan kecakapan literasi. Para peserta ADEM dan seluruh peserta didik pada umumnya harus menguasai 6 literasi dasar. Mulai dari literasi baca tulis, literasi berhitung, literasi sains, literasi teknologi, literasi finansial dan literasi budaya dan kewarganegaraan.

“Ini harus menjadi dasar bagi adik-adik semua untuk bisa bertahan di abad 21. Jadi hanya literasi yang mampu bertahan, Tapi bagi adik-adik agar dapat bersaing nanti di abad 21 juga harus menguasai empat kompetensi dasar. Ini juga penting,” kata Samto.

“Apa kompetensi dasar itu, jadi kompetensinya adalah kemampuan untuk berkolaborasi, berpikir kritis, berkomunikasi, kemudian kreativitas. Ini yang penting yang harus kita kembangkan melalui proses pembelajaran,” sambungnya.

Proses pembelajaran yang dilakukan menurut Samto harus mampu membuat peserta didik berpikir kritis. Namun, berpikir kritis bukan hanya sekadar membantah atau menyangkal tetapi bagaimana para peserta didik memahami konsep dengan konteksnya.

“Jadi berpikir secara kontekstual, agar ini bisa dipecahkan masalahnya. Sehingga ketika adik-adik mengalami persoalan, mampu menganalisis masalah, kemudian memecahkan masalah. Inilah kemampuan berpikir kritis yang diperlukan ke depan karena kondisi masa depan sungguh-sungguh tidak pasti, yang pasti adalah perubahan,” katanya.

Kemudian kemampuan komunikasi. Di era teknologi komunikasi ini, dengan kecepatan yang luar biasa membuat proses komunikasi itu menjadi mudah dan fleksibel.  “Ini baru sekarang, belum tahu 10 tahun kemudian. Makanya kemampuan komunikasi dan memanfaatkan alat komunikasi terkini harus kita kejar,” kata Samto.

Kemudian tentang kolaborasi. Menurut Samto, kolaborasi merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan.  “Jadi bukan kompetisi yang kita utamakan, tapi kolaborasi. Jadi kalau kita mau memenangkan sesuatu kompetisi bukan kemenangan yang didukung tetapi kepentingan bersama. Oleh karena itu adik-adik harus terlibat dalam kegiatan organisasi di sekolah. Itu adalah cara-cara kita untuk latihan menjadi seorang pemimpin,” tuturnya.

“Latihan jadi pemimpin bukan harus menjadi pemimpin. Tetapi menjadi anggota yang baik, anggota yang memiliki kredibilitas terhadap tugas yang diberikan. Itu nanti akan menjadi dasar-dasar kemampuan pemimpin,” sambungnya.

Dan terakhir adalah kreativitas. Kreativitas menurut Samto adalah bagaimana menciptakan peluang untuk menghadapi masalah. Jika manusia berpikirnya linier, hanya menghafal, maka kreativitas itu sulit untuk dihidupkan.

Kreativitas akan bisa berkembang dengan baik jika peserta didik diberikan kesempatan untuk menyelesaikan suatu masalah.

“Tetapi kalau semua diberikan layanan, difasilitasi, maka tidak akan muncul kreativitas,” kata Samto.

Jadi kesimpulannya para peserta didik, kata Samto bukan hanya menguasai literasi, tetapi juga menguasai 4 kompetensi untuk menghadapi segala tantangan di abad 21. “Artinya jika peserta didik luar bisa berlari, kita juga bisa berlari. Jika mereka sampai finish, kita juga sampai finish. Dan untuk memenangkan persaingan ada karakter yang kita miliki. Karakter ini untuk memenangkan persaingan,” terang Samto.