PMPK, Jakarta – Seperti juga di dalam pendidikan pada umumnya pendidikan kaum tunarungu sangat memerlukan sarana pendidikan. Pada umumnya berkomunikasi dengan berbicara dianggap sebagai ciri khas manusia makhluk sosial. Kaum tunarungu, karena tidak dapat menggunakan indra pendengarannya secara penuh, sulit mengembangkan kemampuan berbicara sehingga hal itu akan menghambat perkembangan kepribadian, kecerdasan, dan penampilan sebagai makhluk sosial. Tidak mengherankan apabila di dalam dunia pendidikan anak tunarungu, pendekatan diprioritaskan kepada pengembangan kemampuan berbicara dengan orang lain karena mereka adalah anggota masyarakat yang pada akhirnya nanti berkarya di sana sehingga penguasaan bahasa lisan dan kemampuan berbicara lebih diutamakan. Berkembanglah metode oral. Begitu pula keadaannya di Indonesia.

Tidak dapat disangkal bahwa metode ini memberikan hasil masih jauh dari yang diharapkan, khususnya di Indonesia, karena kurang terpenuhi persyaratan merode oral, baik dari segi guru mauun sarana penunjang. Dalam pada itu sekitar tahun 1960-an di negara yang sudah berkembang telah muncul pandangan baru di dalam pendididikan anak tunarungu. Pandangan ini menampilkan pendekatan baru, yaitu memanfaatkan segala media komunikasi di dalam pengajaran anak tunarungu. Di samping menggunakan media yang sudah lazim, yaitu berbicara, membaca ujaran, menulis, membaca, dan “mendengar” (dengan memanfaatkan sisa kemampuan rungu), pendekatan ini menggunakan pula isyarat alamiah, abjad jari, dan isyarat yang dibakukan. Pendekatan ini dikenal dengan nama komunikasi total (Komtal).

Komtal merupakan konsep yang bertujuan mencapai komunikasi yang efektif antar sesama tunarungu atau pun kaum tunarungu dengan masyarakat luas dengan menggunakan media berbicara, membaca bibir, mendengar dan berisyarat secara terpadu.

Penerapan komtal, sebagaimana yang dikemukakan di atas, memerlukan adanya suatu sistem isyarat yang di dalam kenyataannya memiliki bermacam-macam dasar dan pandangan. Begitu juga di Indonesia, pengertian komtal bermacam-macam.

Melihat dinamika dan perkembangan pendidikan anak tunarungu ini, pemerintah Indonesia untuk kemudian membakukan Sistem Isyarat Nasional.

Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) yang dibakukan itu merupakan salah satu media yang membantu komunikasi sesama kaum tunarungu di dalam masyarakat yang lebih luas. Wujudnya adalah tataan yang sistematis tentang seperangkat isyarat jari, tangan, dan berbagai gerak yang melambangkan kosakata bahasa Indonesia. Di dalam upaya pembakuan tersebut, dipertimbangkan beberapa tolok ukur yang mencakup segi kemudahan, keindahan, dan ketepatan pengungkapan makna atau struktur kata, di samping beberapa segi yang lain.

Perlu diketahui, di dalam Kamus Sistem Isyarat Bahasa Indonesia, kata-kata dasar disusun menurut abjad. Bentuk isyarat bagi kata-kata itu ditampilkan berupa gambar dan deskripsi pembentukannya. Setiap kata disertai pula dengan contoh pemakaiannya di dalam kalimat. Dalam hubungan itu, perlu diingat bahwa di dalam Bahasa Indonesia terdapat sejumlah kata yang kata dasarnya tidak pernah digunakan tanpa imbuhan atau tanpa gabungan dengan kata lain. Pada kata seperti itu, contoh pemakaian di dalam kalimat merupakan kata berimbuhan, sedangkan gambar dan deskripsinya adalah untuk kata dasar (perhatikan juga isyarat imbuhan dan cara penggunaannya).