PMPK, Jakarta – Pandemi Covid-19 berdampak besar bagi seluruh layanan pendidikan. Termasuk pada satuan pendidikan khusus, juga satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif. Agar peserta didik penyandang disabilitas tetap mendapatkan pendidikan yang berkualitas, sebuah panduan dengan protokol kesehatan telah disusun, baik untuk yang belajar dari rumah maupun yang belajar secara tatap muka.

Pada pembelajaran dari rumah, pendamping belajar mempunyai peran yang sangat penting. Kerja sama dan komunikasi antara pendamping dengan peserta didik sangat diperlukan. Jangan lupa perhatikan strategi pembelajaran seperti pengaturan waktu dan durasi belajar. Juga memastikan alat bantu dapat diakses demi berlangsungnya proses belajar yang ideal.

Cara belajar setiap peserta didik penyandang disabilitas harus disesuaikan dengan masing-masing ragam disabilitas.

Psikososial autis dan hiperaktif masuk dalam ragam disabilitas mental, untuk itu belajar haruslah menyenangkan. Metode dengan permainan, dengan tanya jawab, ataupun dengan bercerita dan berkomunikasi dengan visual adalah beberapa pilihan metode yang dapat digunakan.

Pendamping perlu menerapkan materi belajar yang terpola secara rutin, terstruktur, konsisten, dan berkelanjutan antara program sekolah dan di rumah juga mengedepankan prinsip kasih sayang yang memadai.

Aman dan Nyaman Melakukan Pembelajaran

Beberapa hal perlu menjadi perhatian khusus, yakni pilihlah lokasi ruang belajar yang bersih dan nyaman. Bersihkan alat bantu dan perlengkapan belajar dengan disinfektan. Patuhi protokol kesehatan dengan selalu memakai masker, menjaga jarak, memeriksa suhu tubuh, dan menggunakan hand sanitizer, serta pastikan peserta didik dan pendamping dalam keadaan sehat baik fisik maupun psikologis.

Pada beberapa satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif, pembelajaran tatap muka sudah mulai berlangsung. Surat keputusan bersama 4 menteri terbaru memberikan kewenangan penuh kepada pemerintah daerah untuk melakukan pembelajaran tatap muka secara terbatas dengan melihat kondisi dan kesiapan dari masing-masing daerah serta harus melalui persetujuan orang tua.

Dengan penetapan pembelajaran tatap muka, sekolah harus menerapkan protokol kesehatan yang lebih ketat. Di antaranya memastikan kebersihan fasilitas alat peraga dan alat bantu belajar, melarang pinjam-meminjam peralatan pribadi, selain itu guru perlu melakukan asesmen terhadap peserta didik, mengembangkan profil dan program pembelajaran berdasarkan hasil asesmen dan menyiapkan kurikulum akomodatif dengan memperhatikan hasil asesmen, juga selalu berkomunikasi dengan orang tua tentang keseluruhan program pembelajaran.

Dalam pembelajaran tatap muka, peran besar keluarga juga sangat dibutuhkan. Orang tua harus mengingatkan anaknya untuk selalu memakai masker dengan benar, juga selalu mengantar jemput peserta didik oleh orang yang tinggal serumah, dan memastikan kesehatan dan kebersihan anak baik ketika sebelum berangkat dari rumah maupun ketika pulang dari sekolah. Yang tidak kalah penting adalah menjaga kesehatan mental dan psikososial peserta didik penyandang disabilitas, agar anak terhindar dari kekerasan dan penelantaran.

Dukungan penuh semua pihak akan menghasilkan proses belajar yang lebih baik, sehingga peserta didik penyandang disabilitas tetap mendapatkan hak memperoleh pendidikan yang ideal dan maksimal di tengah situasi pandemi.

Informasi lebih lengkap dapat dilihat pada booklet panduan dan website Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi: https://bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id/.