PMPK, Jakarta – Demi menyukseskan pembangunan Indonesia di abad ke-21, menjadi keharusan bagi masyarakat Indonesia untuk menguasai enam literasi dasar, yaitu (1) literasi bahasa, (2) literasi numerasi, (3) literasi sains, (4) literasi digital, (5) literasi finansial, serta (6) literasi budaya dan kewargaan. Kemampuan literasi ini juga harus diimbangi dengan menumbuhkembangkan kompetensi yang meliputi kemampuan berpikir kritis/memecahkan masalah, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.

Untuk membangun budaya literasi pada seluruh ranah pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat), sejak tahun 2016 Kementerian Pendidikan menggiatkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) sebagai bagian dari implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Layaknya suatu gerakan, pelaku GLN tidak didominasi oleh jajaran Kementerian Pendidikan, tetapi digiatkan pula oleh para pemangku kepentingan, seperti pegiat literasi, akademisi, organisasi profesi, dunia usaha, dan kementerian/lembaga lain.

Tujuan umum Gerakan Literasi Nasional adalah untuk menumbuhkembangkan budaya literasi pada ekosistem pendidikan mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam rangka pembelajaran sepanjang hayat sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup.

“Literasi menurut UNESCO bukan hanya terkait dengan kemampuan baca tulis, tetapi berbagai bentuk kemahiran yang memungkinkan warga negara untuk terlibat dalam pembelajaran sepanjang hayat dan berpartisipasi penuh dalam komunitas, tempat kerja, dan masyarakat, “ kata Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Jumeri beberapa waktu lalu.

Kemampuan literasi, terdiri dari:

>> Membaca dan Menulis

>> Membuat/Berkreasi

>> Berkomunikasi

>> Mengidentifikasi

>> Menghitung

>> Memahami

>> Memanfaatkan Media Cetak & Tulis

>> Menafsirkan

>> Memecahkan Masalah Berbasis TIK

 

Gerakan Literasi Nasional memiliki prinsip berkesinambungan, terintegrasi, dan melibatkan semua pemangku kepentingan. Secara sederhana, Gerakan Literasi Nasional ini adalah gerakan milik masyarakat Indonesia. Pelaksanaan Gerakan Literasi Nasional yang diimplementasikan di tiga ranah, yakni sekolah, keluarga, dan masyarakat dapat melibatkan berbagai pelaksana dan pemangku kepentingan pendidikan berdasarkan kedudukan, fungsi, dan peranan masing-masing.

Untuk mendukung program GLN diperlukan sarana dan prasarana, baik di keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Sekolah menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam rangka mendukung dan mengembangankan GLN, seperti ruang perpustakaan, pojok baca dalam kelas, majalah dinding, ruang komputer dan akses internet, ruang kesenian, ruang laboratorium, fasilitas olahraga, papan informasi konvensional dan digital, serta peralatan pendidikan lainnya.

Keluarga menyediakan sarana dan prasarana, seperti pojok baca dan perpustakaan keluarga. Masyarakat secara mandiri dan bergotong royong dapat menyediakan perpustakaan masyarakat, taman bacaan masyarakat, pojok baca pada faslititas-fasilitas publik, museum, fasilitas untuk mengakses internet di ruang publik, dan lain-lain. Penyediaan dan peningkatan sarana dan prasarana ini dilakukan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan yang ada sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas masing-masing.