PMPK, Jakarta – Pendidikan  masyarakat dan  pendidikan  khusus  merupakan salah  satu  komponen  dalam sistem pendidikan nasional yang membantu peserta didik untuk mencapai perkembangan potensinya secara maksimal dan menjamin pendidikan dan pembelajaran sepanjang hayat.

Pendidikan  masyarakat  yang  dimaksud  adalah  pendidikan  keaksaraan  yang  diarahkan untuk  program  penuntasan  buta  aksara  dan  pengembangan  literasi  masyarakat dan pendidikan kesetaraan untuk  melayani anak  usia sekolah tidak sekolah (ATS) dan orang dewasa untuk memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas, berkelanjutan, responsif gender dan  berwawasan  pendidikan pembangunan berkelanjutan.

Pendidikan  kesetaraan  merupakan  pengganti  pendidikan  dasar  dan  pendidikan menengah pada jalur pendidikan non-formal (PNF). Pendidikan kesetaraan mencakup Program Paket A setara SD, Paket B setara SMP, dan Paket C setara SMA. Sedangkan pendidikan  berkelanjutan adalah perluasan akses layanan pendidikan sepanjang hayat dan pengarusutamaan Gender dalam rangka peningkatan kecakapan hidup perempuan.

Adapun fokus layanan pendidikan  kesetaraan  adalah  untuk penanganan anak usia sekolah tidak sekolah (ATS) dan orang dewasa agar dapat memperoleh  layanan  pendidikan  sampai  dengan jenjang pendidikan menengah melalui program Paket A, Paket B dan Paket C. Selain itu juga  pada  pemberian layanan pendidikan berkeadilan gender agar orang dewasa perempuan memperoleh layanan pendidikan kecakapan hidup melalui kegiatan penyelenggaraan: (1) pendidikan kecakapan hidup perempuan (PKHP); (2) Gerakan pendidikan dan pemberdayaan perempuan Mandiri (GP3M); dan (3) pengembangan desa Vokasi.

Untuk pendidikan kesetaraan telah dikembangkan Kurikulum 2013 (K-13) Pendidikan  Kesetaraan  dengan  pendekatan  “Kontekstualisasi  Kurikulum”. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) pendidikan kesetaraan (Paket A,  Paket B  dan Paket C) adalah sama atau setara dengan pendidikan formal (SD,  SMP dan SMA), namun pada jabaran Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar dan program pembelajaran pendidikan kesetaraan diorientasikan dan disesuaikan dengan kondisi dan  potensi lingkungan belajarnya serta  dengan  kebutuhan  hidup  sehari-hari.

Metode pembelajaran untuk pendidikan kesetaraan juga dibuat variatif yakni tatap muka (minimal 20%) antara peserta didik dengan para Tutor atau Pamong Belajar, serta pembelajaran mandiri atau pembelajaran jarak jauh melalui sistem modul dan pendidikan kesetaraan dalam jaringan (Setara Daring). Selain itu pada tahun 2019 sudah mulai dirancang pengembangan layanan penilaian berbasis daring yaitu tes penempatan online serta E-raport.