PMPK - 8 September dicanangkan sebagai Hari Aksara Internasional (HAI) oleh UNESCO. Penetapan hari aksara tersebut dilakukan pada saat sesi ke-14 Konferensi Umum UNESCO pada 26 Oktober 1966. Tujuan pencanangan ini adalah untuk mengingatkan masyarakat internasional akan pentingnya melek aksara bagi individu, komunitas dan masyarakat, serta mengingatkan perlunya upaya yang intensif dalam pemberantasan buta huruf.

Ada berbagai macam acara yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus (PMPK) dalam rangka memeriahkan HAI. Pada Rabu (2/9/2020) diadakan webinar dengan tema “Berkomunikasi dengan Bahasa Isyarat”.

Di acara tersebut, Phieter Angdika dari Laboratorium Riset Bahasa Isyarat, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI) menjadi pembicara pertama.  Kemudian Acbar Dheny dari Deni Rumah Baca menjadi pembicara kedua.

Sebagai pembicara pertama, Phieter Angdika mulai menerangkan tentang Bahasa Isyarat. Dia menyoal tentang penyebutan Tuli, di mana banyak orang mengatakannya sebagai sebutan yang kasar. Padahal, pada dasarnya istilah Tuli dengan huruf kapital T merupakan identitas atau penunjuk kelompok budaya minoritas yang menggunakan bahasa isyarat sebagai kebanggaan, kaya, dan positif dalam pengertiannya.

Sedangkan kalau merujuk istilah tuli, kata Phieter, dengan penulisan huruf t kecil berdasarkan KBBI, itu tidak dapat mendengar karena rusak pendengarannya, atau istilah yang bersifat umum seperti yang orang-orang ketahui yaitu tidak mendengar, dan penyebutan orang dengan tuli itu tidak bisa dikatakan sebagai orang normal karena sebenarnya orang normal ini memiliki pemikiran mengerti, baik dan buruknya seperti apa, sedangkan orang tuli memahami hal yang baik atau yang buruk seperti itu.

“Bahasa dan budaya tuli memiliki keragaman masing-masing. Ketika orang mendengar memiliki bahasa, yaitu bahasa lisan. Maka orang yang Tuli menggunakan bahasa isyarat,” ucap Phieter Angdhika.

Perspektif Medis dan Sosial Budaya

Budaya dengar menggunakan gerak bibir atau oral, sedangkan tuli mengandalkan daya visualnya. Kalau budaya dengar mengandalkan pendengaran terletak di telinganya masing-masing. Berbeda dengan budaya tuli yang mengandalkan gerakan visualnya yang terletak pada matanya.

Ketika ada suara alarm, budaya dengar pasti akan fokus terhadap suara alarm tersebut, sedangkan budaya tuli mengandalkan pada getaran. Lalu budaya dengar mengandalkan bersuara, adapun budaya tuli mengandalkan bel yang terletak pada lampu yang menyala. Budaya dengar, tepuk tangannya dengan menyentuh kedua telapak tangan sedangkan kalau budaya tuli dengan menggunakan telapak tangan lambaian tangannya.

Setiap daerah mempunyai bahasa isyarat yang berbeda-beda, tetapi ketika berkomunikasi, orang yang tuli tetap bisa menjalin komunikasi antara satu dengan yang lainnya walaupun daerahnya berbeda. Adapun yang digunakan untuk saling memahami supaya bisa saling berkomunikasi adalah dengan cara melihat gerakan wajah atau ekspresi wajah, lalu gestur tubuh dan selanjutnya abjad isyarat, yang ini memiliki persamaan di setiap daerahnya.

Menurut Phieter, terdapat dua perspektif dalam hal ini yaitu, perspektif medis dan perspektif sosial budaya. Orang-orang tuli tidak memiliki pendengaran atau tidak bisa mendengar karena bawaan dari lahir atau penyakitnya sehingga ketika orang-orang tuli ini tidak mendengar, yang berarti menunjukkan pada kata rasa sakit dan yang patut dikasihani.

Orang-orang tuli tersebut sejatinya tidaklah orang yang sakit. Dalam perspektif sosial ataupun budaya, orang-orang tuli dasarnya tidak mendengar, sehingga jika ada orang yang mendengarkan perbincangan mereka, kita harus mengatakan diri mereka sebagai orang yang normal. Ketika misalkan seorang anak tuli dibawa ke rumah sakit dan harus disembuhkan menurut perspektif medis, maka yang digunakan ialah alat bantu dengar atau menggunakan teknologi.

Penting untuk diketahui bahwa banyak sekali orang-orang tuli atau anak-anak tuli yang senang berkomunikasi dengan tuli dewasa, terlebih jika mereka merasa dapat mengambil motivasi dari orang tuli dewasa sehingga bisa memberikan motivasi kepada anak tuli dalam perspektif medis.

Sebenarnya, orang tuli dari lahir dapat disembuhkan dengan menggunakan alat bantu dengar. Tetapi pada dasarnya, ketika orang-orang tuli menggunakan alat bantu dengar mereka tidak akan mendengar secara 100%, seperti orang yang dapat mendengar dari lahir.

Perkara antara orang yang dapat mendengar serta ABK tuli dapat terjadi pada cara berkomunikasi.  

“Saya ingin bercerita, saya dulu sekolah di Wonosobo. Saya belajar lisan, jadi guru saya mencoba untuk menerangkan pelajarannya menggunakan lisan. Guru saya menyebut kata kayu, tapi yang saya lihat hanya gerak bibirnya saja yang menyerupai kayu, gayung, payung, jadi kami para tuli hanya bisa membaca gerak bibir orang-orang dengar tersebut, karena pada dasarnya kami tidak mendengar. Itulah yang menyebabkan kami menjadi miskomunikasi. Jadi, ketika guru saya menyuruh untuk mengambil sesuatu dengan melihat gerak bibir yang seperti kayu, gayung, atau payung, saya tidak tahu sebenarnya apa yang sedang disuruh oleh guru tersebut. Sedangkan ketika saya menggunakan bahasa isyarat, maka saya akan dengan cepat bisa memahaminya,” kenang Phieter.

Banyak orang yang berpikir bahwa dengan menggunakan bahasa isyarat berarti kekuatan mereka dalam berbicara atau dalam menggunakan lisannya menjadi lemah. Padahal sesungguhnya tidak demikian, kenyataannya bagi orang yang tuli, bahasa isyarat adalah bahasa yang paling baik dan mudah untuk dipahami.