PMPK – Keterbatasan fisik tidak menjadi batasan untuk menggapai mimpi, dengan semangat pantang menyerah dan terus maju kreativitas akan tumbuh sehingga mendorong diri untuk berkarya.

Kreativitas peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) jika diasah akan menghasilkan mutiara karya yang bernilai, profesi pada bidang industri kreatif merupakan profesi unggulan yang mampu bertahan dalam kondisi apapun.

Mahir dalam bidang seni dapat menjadi bekal pada kehidupan kelak. Insan PDBK dapat berkembang secara profesional di bidang seni hingga bisa mendapatkan penghasilan yang menjanjikan jika seni digeluti dengan serius.

Proses perjuangan yang berbuah manis berhasil dikisahkan oleh para narasumber inspiratif dalam Bincang Hangat “Seni Budaya Bangsaku, Kreativitasku untuk Indonesia Tangguh”, secara daring, pada Jumat (3/9/2021). Tampil sebagai narasumber pertama yakni Faisal Rusdi, seorang pelukis internasional yang tergabung dalam Association of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA).

Potensi melukisnya ia temu kenali pada usia 16 tahun. Saat itu, Faisal masuk ke sanggar lukis. Di sana, ia belajar melukis lebih intens. “Awalnya saya menggambar pakai tangan kiri cuma karena ruang gerakannya agak lambat dan jangkauan kurang luas, maka saya beralih melukis menggunakan mulut. Butuh proses yang panjang untuk berlatih namun hasilnya sekarang teknis goresan saya lebih kuat dibanding ketika menggunakan tangan kiri. Di saat yang bersamaan saya juga mencoba bergabung di AMFPA,” tutur pelukis beraliran realis yang kini menggeluti aliran pointillisme karena dianggapnya lebih ekspresif dan lebih efisien dari segi waktu pengerjaan.

Keikutsertaannya dalam sanggar, ternyata sangat berpengaruh dalam meningkatkan rasa percaya diri Faisal. “Tentunya ada proses, pertama kali saat bertemu dengan orang apalagi yang nondisabilitas, deg-degan, keringat dingin, namun dari situ saya belajar beradaptasi sehingga bisa berinteraksi dengan masyarakat lain di sanggar,” ucap Direktur Bandung Independent Living Center (BILIC) yang sudah menjabat selama empat tahun terakhir.

Di tengah pandemi, dirinya mengaku tetap bisa berkarya. “Bersyukur, kami anggota AMFPA yang digaji per bulan dan sudah dikontrak kerja selama tiga tahun dan bisa diperpanjang. Kami tidak mengarahkan hasil lukisan kami untuk dijual. Lukisan kami dikirim ke AMFPA untuk diseleksi. Lukisan yang terpilih akan di direproduksi untuk digunakan pada berbagai media seperti kartu ucapan maupun bahan-bahan cetakan lainnya di berbagai negara. Selain gaji, kami juga dapat royalti jika hasil karya kami terpakai,” beber pelukis yang sudah memamerkan karyanya di berbagai kota di Pulau Jawa itu. 

“Selama pandemi, kami tidak perlu repot untuk mencari pembeli karena AMFPA akan menampung karya kami, mereproduksinya dan memasarkan,” imbuh Faisal seraya menekankan pentingnya penyandang disabilitas memiliki kemandirian terutama dalam menemukan bakatnya.

Menolak menyerah dengan keadaan, Faisal berprinsip, ketika ada anggota tubuh yang tidak bisa digunakan, maka anggota tubuh lainnya bisa dioptimalkan. Oleh karena itu, sejak tahun 2016 sejalan dengan filosofi BILIC, pihaknya terus mengimbau agar penyandang disabilitas mempunyai kemandirian. Bukan berarti harus bisa mengurus diri sendiri namun bisa memutuskan hak-hak yang harus diraih secara mandiri.

“Mandiri di sini maksudnya dia bisa mencari kebisaan dia, memiliki cita-cita dan berani mewujudkan dengan caranya sendiri. Kita tahu teman-teman disabilitas punya potensi untuk diketahui sendiri dan digali sendiri. Tidak harus dipaksakan,” jelas Faisal yang sudah menghasilkan 500 lebih lukisan hingga saat ini.

Narasumber lain yang juga inspiratif yaitu Azaroby Dwi Anggoro, peraih medali emas FLS2N bidang desain grafis jenjang SMALB tahun 2019. Ia membuktikan bahwa tidak ada batasan bagi siapapun untuk terus mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, tak terkecuali bagi penyandang tunarungu. Bakatnya yang menonjol di bidang desain, membulatkan tekadnya untuk berkuliah di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

“Saya tidak menemukan kesulitan yang berarti dalam berkuliah. Saya suka kuliah di sini. Selama pandemi saya masih suka membuat desain flyer dari hasil pemikiran sendiri. Setelah lulus, saya ingin langsung bekerja menjadi guru desain,” ucapnya bersemangat.

Berikutnya adalah seorang musikus belia asuhan Diploma Trinity College London bernama Allafta Hirzi Sodiq yang akrab disapa Zie Zie. Sederetan prestasi membanggakan telah berhasil ia raih di bidang musik, di antaranya, juara 1 lomba menyanyi FLS2N SDLB tahun 2016, juara Asia Arts Festival di Singapura, peraih diamond award pada Indonesia Piano Festival, juara mendongeng, dan yang paling membanggakan baginya adalah menjadi penyanyi pada lagu tema Asian Paragames tahun 2018.

Lingkungan Sangat Menunjang Keberhasilan Penyandang Disabilitas

Musikus Tamam Hosein menekankan bahwa untuk bisa menjaga eksistensi seseorang di industri musik, maka dia harus terus berkarya dan memublikasikannya. Saat ini media publikasi begitu beragam, seperti rekaman, video klip, YouTube, TikTok, dan media digital lainnya. “Manfaatkan itu,” tekannya.

Menurut Tamam, dengan hanya menjadi juara tanpa aktivitas lanjutan maka prestasi yang diraih tidak ada artinya. Peserta yang berhasil menjadi juara tentu berharap akan ada program lanjutan yang dibantu oleh pemerintah. “Karena jika mereka dibiarkan sendiri tanpa ada dukungan pemerintah, mereka akan hanyut oleh arus persaingan industri yang begitu deras,” ujarnya mengingatkan.

Dukungan yang utama juga datang dari keluarga. Orang tua sering kali menjadi motor penggerak yang sangat menentukan untuk mengarahkan anak-anak. Diakui Azaroby Anggoro, ibunya sangat mendukung aktivitas dan bakatnya selama ini. “Ibu saya hanya memberikan semangat saja dari semua aktivitas yang saya lakukan,” ungkapnya.

Pada bagian lain, Zie Zie mengatakan, meskipun kedua orang tuanya tidak berbakat di bidang seni, ketertarikannya pada kesenian sudah ia rasakan ketika berusia 3 tahun. Awalnya, ia suka bernyanyi. Kemudian, di usia 5 tahun ia mulai belajar piano. Namun sang bunda mengakui, sangat sulit untuk mencari guru les piano bagi penyandang tunanetra saat itu. Beruntung, ada guru dari Trinity College London yang menangkap bakat Zie Zie dan bersedia mengajarinya hingga sekarang.

Berkat kepiawaian Zie Zie, sang ibu berkisah, ketika di tes bermain piano oleh sang guru, Zie Zie berhasil loncat masuk pada grade 4, tidak dari grade 1 dulu. “Bagi saya, peran orang tua dalam mendukung dan membantu pengembangan bakat saya sangat penting,” ujar gadis berusia 13 tahun yang sudah dikontrak Aquarius Musikindo pasca penampilan apiknya di Asia Paragames itu.

Tamam Hosein menggarisbawahi, peran orang tua tidaklah kecil untuk mendukung anak-anaknya mengasah minat, bakat dan potensi mereka. Ditambah lagi, pendampingan yang dibutuhkan peserta didik berkebutuhan khusus ini membuat mereka harus selalu dekat dengan keluarga terutama orang tua. “Dukungan yang besar sangat menentukan keberhasilan mereka,” tekannya.

“Jangan berhenti berlatih untuk adik-adik. Dunia musik memang butuh banyak sarana yang mendukung tapi jangan karena tidak ada sarana kemudian kita putus asa. Ada tidaknya sarana, tetap berkaryalah meski sesederhana apapun itu,” ujar Tamam Hosein memotivasi.

Pada kesempatan yang sama, musikus yang merupakan anak dari Tamam Hosein, yakni Nina Tamam mendukung para peserta didik berkebutuhan khusus untuk terus berlatih secara konsisten. “Jangan pernah kecil hati dengan keadaan, temukan keunikan diri. Harus selalu ada waktu latihan dan konsisten untuk menggapai impian kalian. Bahkan untuk sekelas diva sekalipun harus giat berlatih. Tekuni bakat kalian, konsisten latihan, terus tingkatkan ilmu, cari tahu hal yang baru, tanya sama orang yang lebih berpengalaman, lalu jalani prosesnya dengan sabar. Kalau ada kemauan pasti ada jalan,” tuturnya penuh keyakinan.