PMPK - Hari ini, 8 September 2019, masyarakat internasional memperingatinya sebagai Hari Aksara Internasional. Melansir dari situs United Nations (UN), 8 September dicanangkan sebagai Hari Aksara Internasional oleh UNESCO saat sesi ke-14 Konferensi Umum UNESCO pada tanggal 26 Oktober 1966. Tujuan pencanangan ini adalah untuk mengingatkan masyarakat internasional akan pentingnya melek aksara bagi individu, komunitas dan masyarakat.

Angka buta aksara di Indonesia menurun

Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikbud Ristek, Iwan Syahril menerangkan bahwa dari tahun ke tahun jumlah dan persentase penduduk buta aksara di Indonesia telah menurun secara signifikan. Mengacu pada hasil Survei Ekonomi Nasional (Susenas) 2021, angka buta aksara di Indonesia tinggal 1.56 persen atau 2,7 juta orang. Jumlah tersebut menurun dibanding data buta aksara pada 2020 dengan angka 1,71 persen atau sekitar 2.9 juta orang. “Penurunan angka buta aksara ini merata di seluruh Indonesia sampai tingkat kabupaten atau kota,” ucap Iwan pada peringatan Hari Aksara Internasional (HAI), Kamis (08/09/22)

 

Hal ini terjadi karena adanya program dan layanan pendidikan keaksaraan, baik yang didukung oleh APN, APBD, kabupaten, maupun swadaya masyarakat.

 

Oleh karena itu, Iwan mengajak seluruh pemangku kepentingan yang menangani pendidikan untuk bersama-sama berjuang dan bergandengan tangan dalam mengimplementasikan dan menyukseskan program-program Merdeka Belajar. “Melalui penyadaran pentingnya perluasan ruang belajar literasi untuk membangun ketahanan serta memastikan pendidikan yang berkualitas, adil, dan inklusif untuk semua,” ucap Iwan. Selain meningkatkan akses layanan pendidikan melalui penuntasan buta aksara dan mengatasi anak usia sekolah yang tidak sekolah, program dan layanan pendidikan Indonesia diarahkan untuk menciptakan sistem pembelajaran yang merdeka bagi semua peserta didik pada setiap jenis dan jenjang pendidikan. Semua dilakukan demi masa depan anak-anak Indonesia yang berkualitas menuju era Indonesia Emas 2045, yaitu Profil Pelajar Pancasila

 

Oleh karena itu, tema HAI tahun ini "Transformasi Literasi dalam Konteks Merdeka Belajar" sangat relevan dengan program Merdeka Belajar Kemendikbud Ristek yang dibentuk untuk menguatkan literasi, numerasi, dan karakter peserta didik. Peringatan ini diharapkan mampu mendorong pemangku kepentingan dalam menyukseskan implementasi kurikulum Merdeka serta platform Merdeka Mengajar. Terutama, mengingatkan tentang pentingnya literasi untuk pendidikan yang berkelanjutan. Mohamed Djelid, Direktur dan Perwakilan Kantor UNESCO Jakarta melalui kata sambutannya menjelaskan, pada 2020 86.7 persen dari total penduduk dunia memiliki kemampuan baca dan menulis. Hal ini merupakan peningkatan dari tahun 1979 yang hanya 68 persen. Meskipun demikian, masih terdapat 771 juta remaja dan dewasa di seluruh dunia yang belum memiliki kemampuan membaca walaupun tingkat dasar. 60 persen di antaranya adalah kaum perempuan.

 

Lebih lanjut, Mohamed menambahkan, peringatan HAI mengingatkan kembali bahwa literasi adalah masalah martabat dan hak asasi manusia. “Tujuan kita untuk menghasilkan masyarakat melek aksara dan melaksanakan agenda selanjutnya (untuk) menciptakan masyarakat literasi dan berkelanjutan,” pungkas Mohamed. Acara HAI merupakan kerja sama antara Kemendikbudristek dan Pemda Lombok Tengah yang digelar sejak 6-9 September 2022 secara hybrid.

 

Penulis : Andia Christy

Editor : Ayunda Pininta Kasih

Sumber: www.kompas.com