PMPK, Jakarta – Untuk membangun budaya literasi pada seluruh ranah pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat), sejak tahun 2016 Kementerian Pendidikan menggiatkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) sebagai bagian dari implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Layaknya suatu gerakan, pelaku GLN tidak didominasi oleh jajaran Kementerian Pendidikan, tetapi digiatkan pula oleh para pemangku kepentingan, seperti pegiat literasi, akademisi, organisasi profesi, dunia usaha, dan kementerian/lembaga lain.

GLN sebagai Gerakan Literasi untuk Semesta (GEULIS) terdiri dari:

A. Gerakan Literasi Berbasis Masyarakat

B. Melibatkan Tiga Ranah Pendidikan:

i. Keluarga

ii. Sekolah

iii. Masyarakat

C. Menyentuh Semua Aspek Literasi

D. Memperhatikan Kebutuhan Kaum Difabel

E. Penyediaan Bahan Pengayaan Literasi

i. Penerjemahan karya literasi kelas dunia

ii. Penerjemahan karya sastra lokal

 

Untuk mendukung program GLN diperlukan sarana dan prasarana, baik di keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Sekolah menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam rangka mendukung dan mengembangankan GLN, seperti ruang perpustakaan, pojok baca dalam kelas, majalah dinding, ruang komputer dan akses internet, ruang kesenian, ruang laboratorium, fasilitas olahraga, papan informasi konvensional dan digital, serta peralatan pendidikan lainnya.

Keluarga menyediakan sarana dan prasarana, seperti pojok baca dan perpustakaan keluarga. Masyarakat secara mandiri dan bergotong royong dapat menyediakan perpustakaan masyarakat, taman bacaan masyarakat, pojok baca pada faslititas-fasilitas publik, museum, fasilitas untuk mengakses internet di ruang publik, dan lain-lain. Penyediaan dan peningkatan sarana dan prasarana ini dilakukan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan yang ada sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas masing-masing.

“Jadi sebenarnya kalau kita bisa melibatkan tiga pihak ini. Keluarga, sekolah, masyarakat. Karena kehidupan terbesar anak-anak kita ada di lingkungan keluarga dan di lingkungan sekolah,” tutur Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Jumeri beberapa waktu lalu.

“Kalau dua sisi ini, tempat ini secara masif memberi perhatian kepada anak-anak kita, maka kemampuan literasi anak-anak kita akan mengalami peningkatan yang sangat baik, sangat tinggi. Di rumah dibiasakan membaca, disediakan bahan-bahan bacaan, di sekolah juga demikian,” sambung Jumeri.

Jumeri juga menyinggung tentang penyediaan bahan pengayaan literasi, berupa penerjemahan karya literasi kelas dunia dan penerjemahan karya sastra lokal. “Supaya bisa dibaca, dimengerti, dipahami oleh masyarakat kita,” terang Dirjen PAUD Dikdasmen.