PMPK - Pendidikan kesetaraan hadir menjadi alternatif pendidikan bagi anak Indonesia. Maka itu di pendidikan kesetaraan selalu melakukan inovasi-inovasi agar terus bisa menghadirkan pendidikan yang bermutu dan berkualitas.

Koordinator Pendidikan Kesetaraan, Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus (PMPK), Subi Sudarto menjelaskan agar pendidikan kesetaraan mampu menghadirkan pendidikan yang setara dengan pendidikan formal maka kita memiliki tiga prinsip yaitu 3 M- (Mengejar, Mengiringi, dan Mendahului).

Subi menjelaskan Mengejar berarti pendidikan kesetaraan senantiasa mengejar ketertinggalan yang sudah dilakukan di pendidikan formal. Mengiringi  memiliki arti pendidikan kesetaraan harus senantiasa mengiringi pendidikan formal. Yaitu ketika anak bangsa tidak mendapatkan layanan pendidikan di sekolah formal, maka pendidikan kesetaraan siap hadir menjadi alternatif bagi mereka.

Sedangkan arti Mendahului, kata  Subi  ini menjadikan motivasi agar pendidikan kesetaraan bisa mendahului apa yang sudah dilakukan oleh pendidikan formal.

"Maka itu, di pendidikan kesetaraan terus melakukan inovasi-inovasi, misalnya dengan menyiapkan aplikasi seTARA daring untuk proses pembelajaran bagi peserta didik.  Kita juga ada E-Rapor, E-Ijazah. Sehingga inovasi-inovasi ini untuk mempermudah proses pembelajaran dan mempermudah peserta didik terlayani dan terpenuhi akses pendidikan. Karena setiap warga wajib mendapatkan pelayanan pendidikan. Dan pemerintah harus hadir dan melayani. Ini adalah misi utama dari pendidikan kesetaraan,”  jelasnya seperti dikutip dari Majalah Spirit. 

Subi mengatakan dengan  adanya pendidikan kesetaraan ini anak-anak bangsa yang berada di daerah 3T juga bisa menuntut ilmu.

Menurutnya dengan keterbatasaan sekolah di daerah tersebut, maka hadirnya sekolah kesetaraan sangat diperlukan. “Di sana muncul satuan pendidikan nonformal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dari, oleh, dan untuk masyarakat. Ini dibentuk masyarakat sendiri dan mendapatkan legalitas dari Dinas Pendidikan setempat,” ujarnya.

Dari PKBM ini akan membentuk kelompok-kelompok belajar di wilayah–wilayah yang tidak terjangkau. Kemudian PKBM bisa menghadirkan tutor kunjung.

“Dengan Kemendikbud meluncurkan guru penggerak, kita juga di pendidikan nonformal ingin mengarah ke sana, ada tutor penggerak dari penggiat pendidikan nonformal sebagai penggeraknya,” katanya.

Menurutnya jasa para penggiat pendidikan nonformal sangat luar biasa. Mereka sudah berjuang sangat luar biasa untuk menjaring anak yang tidak sekolah yang masih usia sekolah. Ini masih banyak di daerah 3T.

“Sekolah kesetaraan ini sebagai solusi dan alternatif pendidikan yang memberikan kebermanfaatan kepada masyarakat,” demikan  Subi Sudarto.